Dalam lanskap ancaman saat ini, Anda berada dalam risiko jika semua identitas—baik manusia maupun mesin—tidak diamankan dengan kontrol hak akses yang cerdas dan sesuai. Risiko ini menjadi lebih besar lagi ketika identitas dan hak akses pada server Linux yang menjalankan beban kerja penting atau menyimpan data sensitif dikelola secara terpisah dari infrastruktur lainnya. Sebagai tulang punggung infrastruktur TI perusahaan, keamanan server Linux membutuhkan perhatian khusus. Untuk mencegah serangan, sangat penting untuk memantau akses secara ketat, mengurangi permukaan serangan identitas, dan meminimalkan hak akses untuk semua identitas. Namun, server Linux memiliki karakteristik unik yang membuat pengamanan identitas dan hak akses menjadi lebih sulit dari biasanya. Di lingkungan perusahaan, direktori dan penyedia identitas (IdP) seperti Microsoft Active Directory (AD) digunakan secara luas. Namun, server Linux tidak memiliki dukungan bawaan untuk integrasi dengan sistem tersebut, terutama untuk kebutuhan terkait keamanan identitas. Perusahaan mengatasi hambatan ini dengan menggunakan alat AD bridging yang menghubungkan server Linux ke Active Directory sehingga pengguna dapat mengautentikasi ke mesin Linux menggunakan akun dan grup yang dikelola secara terpusat. Ini memungkinkan organisasi untuk menyederhanakan proses akses, autentikasi, dan otorisasi pengguna di seluruh lingkungan Linux. Namun, di tengah percepatan adopsi cloud, ketika organisasi berupaya memperbarui sistem direktori ke platform berbasis cloud untuk melakukan transformasi, tim TI dihadapkan pada dilema antara modernisasi dan keamanan. Alasannya? Server Linux secara bawaan tidak mendukung direktori cloud, sedangkan solusi AD bridging yang ada biasanya di-host secara lokal (on-premises), sehingga server Linux tetap terikat pada AD lokal. Keterbatasan ini memaksa tim keamanan menggunakan taktik manajemen identitas dan akses (IAM) lama, seperti penggunaan akun lokal yang sering kali bersifat bersama (shared), untuk mendelegasikan akses pengguna. Akibatnya, akun lokal ini cenderung memiliki hak akses yang sangat tinggi dan menggunakan kredensial sensitif pada server Linux, yang menjadikan mesin-mesin penting ini sebagai target yang sangat berbahaya sekaligus rentan terhadap serangan. Pertanyaan krusial pun muncul: Apakah Anda siap mengambil risiko dengan membiarkan server Linux Anda tertinggal demi menjalankan strategi cloud-first organisasi? Di antara kebutuhan perusahaan untuk mengamankan server Linux dan keinginan untuk merangkul cloud, terdapat kebutuhan yang belum terpenuhi: solusi bridging yang bersifat agnostik terhadap direktori dan berakar pada prinsip keamanan identitas. Server Linux atau Sasaran Empuk? Di saat para pemimpin TI di seluruh dunia semakin fokus mengamankan identitas dalam skala besar, proses dan teknologi IAM (Identity and Access Management) yang usang dan terdesentralisasi pada server Linux yang berisiko tinggi dapat menempatkan mereka dalam posisi yang rentan. Beberapa tantangan keamanan yang paling umum meliputi: Penyebaran identitas dan hak akses yang tak terkendali: Ketika server Linux Anda tidak terintegrasi dengan direktori, akun lokal (sering kali akun root) digunakan untuk memberikan akses. Ketidakterhubungan ini mengakibatkan penyebaran hak akses dan kredensial yang tidak terkendali, sehingga server menjadi sangat rentan terhadap serangan berbasis identitas dan menghambat inisiatif keamanan identitas strategis seperti Zero Trust dan penerapan manajemen akses berbasis peran (RBAC). Beban administratif yang meningkat: Administrator TI harus secara manual mengelola pengguna, akses, dan hak akses di seluruh server Linux Anda tanpa adanya manajemen identitas yang terpusat. Praktik ini menambah beban kerja mereka sekaligus meningkatkan risiko kesalahan manusia, seperti pemberian hak akses yang berlebihan (overprovisioning). Kompleksitas kepatuhan: Penggunaan akun lokal berarti setiap tindakan pengguna dikaitkan dengan akun lokal tersebut pada server tertentu, bukan dengan identitas pengguna yang dikelola secara terpusat di tingkat perusahaan. Akibatnya, diperlukan waktu dan usaha ekstra untuk menghubungkan peristiwa di seluruh lingkungan Linux guna menyusun laporan audit dan kepatuhan yang penting untuk memenuhi pemeriksaan kepatuhan terkait IAM. Karena mengorbankan keamanan Linux bukanlah pilihan, inisiatif migrasi ke cloud hampir selalu menjadi prioritas kedua. Akibatnya, perusahaan tetap terikat pada direktori lama yang sering kali sulit dikelola, seperti Microsoft AD, dengan konsekuensi berupa tantangan integrasi yang terus meningkat dan biaya pemeliharaan yang membengkak. CyberArk Identity Bridge: Modernisasi IAM Linux Anda dan Maksimalkan Keamanan Identitas CyberArk Identity Bridge adalah solusi bridging SaaS yang bersifat agnostik terhadap direktori, memungkinkan integrasi server Linux kritikal Anda dengan direktori berbasis cloud pilihan Anda. Solusi ini membantu memperluas inisiatif strategis seperti Zero Trust, keamanan identitas, dan delegasi hak akses berbasis peran minimum (least privilege) ke lingkungan Linux yang berisiko tinggi. Dikembangkan sebagai bagian dari solusi CyberArk Endpoint Identity Security, yang didukung oleh CyberArk Endpoint Privilege Manager (EPM), solusi ini memaksimalkan pengurangan risiko di seluruh endpoint tanpa menghambat rencana transformasi digital Anda. Berikut adalah gambaran bagaimana CyberArk Identity Bridge membantu modernisasi direktori tanpa mengorbankan keamanan Linux: Sentralisasi IAM: Mengurangi permukaan serangan identitas dengan mengaktifkan akun dan hak akses yang dikelola secara terpusat untuk proses autentikasi dan otorisasi di lingkungan Linux. Pengelolaan akses pengguna dan haknya dilakukan secara terpusat, sehingga mengurangi beban administratif dan mengotomatiskan orkestrasi identitas guna mencegah kesalahan manual. Mempercepat modernisasi IAM: Memudahkan migrasi ke direktori berbasis cloud pilihan Anda sambil tetap mendukung direktori yang ada. CyberArk Identity Bridge dapat dengan mudah diterapkan untuk mencegah gangguan bisnis selama proses migrasi ke cloud. Menerapkan autentikasi pengguna yang kuat dan modern: Menggunakan autentikasi yang kuat dan tahan phishing untuk server Linux berdasarkan lokasi, IP, dan riwayat pengguna dengan multi-faktor autentikasi adaptif (MFA). Opsi tanpa kata sandi (passwordless) juga tersedia untuk mencegah pencurian kredensial sekaligus meningkatkan pengalaman pengguna. Memperkuat postur keamanan identitas: Memperluas arsitektur Zero Trust ke lingkungan Linux yang berisiko tinggi dengan CyberArk Endpoint Identity Security dan kapabilitas keamanan identitas lainnya. Pengelolaan akses, autentikasi, dan otorisasi pengguna secara terpusat memastikan pengurangan risiko yang efektif, peningkatan visibilitas, serta ketahanan siber yang lebih baik di lingkungan Linux. Menyederhanakan kepatuhan: Memungkinkan pengelolaan identitas secara terpusat, yang dapat menghilangkan penyebaran hak akses berlebih dan menunjukkan keselarasan dengan prinsip Zero Trust pada server Linux. Dengan demikian, organisasi dapat meningkatkan kesiapan kepatuhan secara signifikan untuk memenuhi standar seperti NIST CSF 2.0, ISO 27001, dan persyaratan lainnya. Menyeimbangkan Migrasi Cloud dan Keamanan Identitas Migrasi ke cloud adalah kunci untuk tetap relevan. Namun, perjalanan transformasi digital Anda dapat menjadi kontraproduktif tanpa strategi keamanan identitas yang kuat untuk melindungi sumber daya kritikal. Dengan CyberArk Identity Bridge, Anda dapat melangkah maju dari direktori lama dan menyederhanakan IAM di server Linux melalui strategi keamanan identitas yang terintegrasi, disediakan melalui satu platform komprehensif—CyberArk Endpoint Identity Security. Hubungi CyberArk Indonesia sekarang juga untuk mendapatkan Informasi…
- (021) 53660861
- cyberark@ilogoindonesia.id
- AKR Tower – 9th Floor Jl. Panjang no. 5